Sahabat Pembaca

Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

Wednesday, February 26, 2014

Geopolitik ditengah Kebangkitan Militer Indonesia

Masih terngiang dalam benak saya ingatan Indah akan Kejayaan masa lalu,bukan karena saya pernah melalui itu,akan tetapi dari literatur-literatur yang pernah dibaca.

Nusantara yang tak mau terinjak-injak harga dirinya,lebih memilih untuk angkat senjata meskipun harus melawan kekuatan yang jauh lebih kuat,ada beberapa tokoh kita yang menjadi mendunia karena kehebatan mereka memimpin peperangan melawan barat.

Masa Majapahit dan Sriwijaya a/ masa yang tak terbantahkan kegemilangannya,masa dimana hampir seluruh Kepulauan nan-hai (tiongkok), dwipantara (sanskerta), indische archipel (belanda),Insulinde (Dowes Dekker/Multatuli) maupun penyebutan "Indunesia" yang berarti Kepulauan Hindia dalam artikelnya yang berjudul "On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations (JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74,) " oleh George Samuel Windsor Earl ( 1813 – 1865 )dikuasai oleh Pemimpin kita,konon pada masa itu hanya ada Dua Negara Adidaya di Timur, di Tiongkok dan Nusantara.

Kita berbagi kekuasaan di Utara dan Selatan pada masa itu dengan Mereka,dimana masa olah tubuh bela diri & strategi perang menjadi faktor terpenting dibanding senjata yang kita punya.

Bangsa inipun pernah melawan kekuatan besar Bangsa lain di Tanah pertiwi, kita mengingat Perang Diponegoro kala itu melawan Penjajah Belanda, dengan kekuatan sederhana kita berhasil banyak membunuh pasukan Eropa, dan patut kita bangga jika pada saat itu, Pangeran tidak terjerembab siasat licik Belanda,bukan tidak mungkin kita berhasil mengusir mereka saat itu (Konon awal dari peperangan ini berawal ketika Belanda ingin membangun jalan melintasi makam Leluhur Kerajaan).

Kita juga mengenal Panglima Besar Jend Soedirman yang melawan Agresi I & II Belanda, Bung Tomo dengan Kalimat Takbirnya bisa membangkitkan Pemuda Surabaya untuk melawan Inggris (NICA).

Pada masa Bung Karno memang kita tidak terlibat Perang besar Membela Negara ataupun Ekspansi kewilayah Negara Lain, namun dengan bantuan Militer kita, Brunei dan Singapore menjadi merdeka, kita juga melatih beberapa Negara dalam membentuk Angkatan bersenjata mereka, ambil contoh Vietnam,Kamboja,dan Pakistan.

Bahkan kita juga pernah melawan Amerika pada masa Pemberontakan dahulu,terbukti ketika Pilot mereka tertembak di Kalimantan dan dijadikan tawanan yang nantinya dipaksa menjadi instruktur bagi calon-calon penerbang kita.

Kemampuan Individu Prajurit kitapun sangat diperhitungkan Dunia hingga saat ini, tak banyak yang tahu ketika prajurit RPKAD membunuh pasukan SAS Inggris di Kalimantan, ketika Dwikora bergejolak.

Dari begitu banyak sejarah kejayaan kita, sekarang seolah menjadi antiklimaks ketika seringnya kita dilecehkan oleh Bangsa lain.

Berita tentang Keberatan Singapur atas penamaan KRI Usman Harun, yang dalam sejarahnya mereka adalah pasukan Katak TNI yang melakukan Infiltrasi ke Singapura & dihukum mati disana.

Sebelumnya pula ketika Nelayan Indonesia yang di "Larung" dilaut oleh Tentara Papua New Guinea yang menyebabkan 4 nelayan kita tewas,belum ditambah aksi Australia yang memasuki teritori laut kita, bahkan China yang merangsek masuk ke wilayah kita di Laut China Selatan untuk membebaskan Nelayan mereka yang dtangkap.

Melihat begini, mau gak mau TNI harus melakukan sesuatu, untuk membangkitkan Marwah, Macht Wibawa Bangsa, dan Politikpun harus bersinergi.

Geopolitik kita yang teramat strategis dan luas, menyebabkan perlu adanya strategi baru guna menghadapi kemajuan militer negara-negara tetangga.

Sepertinya perlu ada "Aksi Militer" ketetangga dibalut selimut domba. Semisal terjunin aja Kopassus ke Batam, dengan jumlah 500 personil, tapi mereka tidak menggunakan atribut militer melainkan sipil, dibekali paspor ditangan, pasukan ini menumpang kapal penyebrangan ke Singapura, pelesir lah mereka ke tempat-tempat strategis disana, dengan berbekal Kaos Putih bertuliskan Usman-Harun is my Hero, kita liat psykologis mereka. Tidak ada aturan Internasional yang melarang turis dalam jumlah tertentu berkunjung bersamaan ke suatu negara. Biarlah mereka lihat atraksi "Turis" asing yang terjun payung dari Hercules dan mendarat dengan selamat menjadi turis dinegara mereka.

Pada Kasus PNG its simple pantau terus penyelidikan pembuangan Nelayan kita oleh tentara mereka, jika ini ada unsur "penindasan", ajari saja mereka sedikit arti kesopanan.infiltrasi bisa dilakukan, sabotase fasilitas umum mereka lalu pulang balik.

Laut China Selatan sudah sewajarnya dibangun Pangkalan Militer di Natuna, selain untuk pertahanan juga untuk mencegah Pencurian Ikan disana, hanya TNI yang bisa bukan DKP lagi.

Masalah Aussie dulu kita pernah mengagetkan mereka lewat aksi TUBear ke Jantung Ibukota mereka, tapi bukan itu yang akan dilakukan, Tembak saja setiap kapal mereka yang masuk teritori kita, ekstrem memang tapi mungkin itu untuk melawan ke arogansian mereka.

Mungkin tulisan ini hanya sebagai imaji dari saya, tetapi ada cara yang bisa dilakukan untuk mengembalikan Kewibawaan Bangsa dari tindakan yang meremehkan Kedaulatan Negara tanpa melulu mempertimbangkan dampak Ekonominya.

Gamprit V, 12/02/14
Di Abad Fatamorghana

Monday, June 10, 2013

Indonesia di Kancah Politik 2014

Sudah sekian lama saya membaca sebuah artikel disalah satu koran terkemuka disini, bisa dibilang yang merajai nusantara.

Artikel itu membahas tentang "Siklus Kekuasaan Dunia"

Bahasan dari artikelnya pun somehow sangat mengena di sanubari#lebeeeh dikit
Bercerita tentang Perputaran kekuasaan di bumi, seingat saya ketika membaca artikel tersebut dalam keadaan sakit dan penyembuhan karena kecelakaan motor 2005, menghabiskan 3tahun lebih penyembuhannya.

Bukan itu yang jadi ganjalan di pikiran saya tetapi chirpstory2 yang sudah saya baca hasil gubahan akun anonim terkemuka di negara ini.

Semua bermuara pada satu siklus akhir dari Roda kekuasaan Dunia yaitu Pengusaha Besar, hal ini pula saya pernah berdiskusi dengan salah satu Wasekjen partai yang Pimpinannya baru kehilangan Putranya disaat sedang menimba Ilmu Agama di Negeri Orang*Insya Allah Syahid.

Ketakutan Aktivis adalah ketika Konglomerasi berhasil menempatkan "Boneka2"-nya di Parlemen, contoh UU Penanaman Modal Asing, UU Tembakau, UUD 45 Pasal (33) butir ke (5) ttg Pengelolaan SDA yg harus diatur dgn UU Khusus (Lex Spesialis) dalam hal ini UU Migas yang mestinya dikelola sebesar2nya untuk kepentingan bangsa namun tidak dengan kenyataannya (Istilah ilmiahnya "Das Sollen vs Das Sein = Cita-cita vs Kenyataannya") dan masih ada yang lainnya.

Konglomerasi di dunia manapun pasti berlomba-lomba mencari keuntungan yang besar, mereka melihat dunia dari sudut pandang seberapa besar saya bisa mendapatkan benefit jika saya bisa menguasai Pangsa Pasar ini, hidup mereka tidak lebih dari Margin Profit, Break event Point, Return Of Transaction, Total Cost dll istilah ekonominya.

Berdagang adalah Sunah Rasul, namun kita seperti munafik jika semua pengusaha 20%nya saja menggunakan cara2 Rasul dalam berdagangnya.

MDG's atau disebut Milenium Development Goals yang dicanangkan PBB untuk mengentaskan kemiskinan dan Kelaparan Dunia seperti slogan "Di Abad Fatamorghana" saja, tidak jauh dengan CSR (Corporate Social Responsibility) yang bahkan pada UU PMA ini diwajibkan bagi beberapa perusahaan terutama di sektor pertambangan, ini semua semacam omong kosong belaka, bahkan Spekulan Terkenal Dunia pernah mengatakannya secara terus terang di hadapan media televisi lokal yang kalo saya tidak salah disiarkan secara Live(George Soros), karena apa, alokasi keuntungan yang diperuntukan untuk progam CSR ini sangat kecil jika dibandingkan dengan Margin Keuntungan yang mereka peroleh.

Kita tidak menutup mata dengan apa yang dilakukan Bill Gates dengan kegiatan sosialnya, lagi-lagi itu sangat kecil jika dibandingkan dengan Korporasi-korporasi hitam di dunia, jikapun saya salah, logikanya setidaknya sudah tidak ada lagi orang mati kelaparan itu saja untuk membuktikan setinggi apa rasa tanggung jawab mereka.

Bagaimana cara mereka melanggengkan bisnis mereka adalah tidak lain dengan 2 cara yakni :
1. Pendekatan kepada Penguasa setempat, ambil contoh kecilnya adalah pedagang kaki lima yang berjualan ditrotoar dimana setiap harinya mereka harus menyetor ke oknum yang mengatas namakan Pemerintah setempat jika bisnis mereka tidak ♏ªų digulung paksa oleh Satpol PP, untuk Pengusaha Eropa mengenalnya dengan Istilah "Lunch Money".
2. Di Era Demokrasi Kebebasan Informasi sangat dilindungi, bahkan Pemerintah membangun sebuah lembaga sementara yaitu Komisi Informasi Publik (KIP) yang memberikan edukasi kepada publik jika ingin mengetahui sumber-sumber atau Informasi di lembaga negara mempunyai hak untuk itu namun pada batas tertentu, itu pada pemerintahan pada masyarakat umum kita mengenal UU Pers meskipun kekuasaan pers dalam memberitakan suatu berita di batasi akan adanya "Ralat", "Koreksi" dan "Hak Jawab"(http://klien.kontan.co.id/kebijakan_pemberitaan) hal ini yang dirasa kurang Mumpuni dalam mengurangi berita-berita Sampah pesanan pemegang uang dengan maksud berbagai macam seperti Pencitraan dsb, karena Pers sendiri berhak menyembunyikan identitas narasumber mereka yang semestinya hal ini untuk kebaikan dalam rangka melindungi narasumber mereka menjadi tameng oknum narasumber alias Haters atopun bayaran untuk menfitnah dan membangun opini publik.
Era demokrasi kekuatan terbesar adalah rakyat, karena rakyatlah yang menentukan "Nasib" mereka sendiri, mereka yang memilih Pemimpin mereka, mereka pula yang mampu menjatuhkan pemimpin mereka baik itu secara Prosedural melalui keterwakilan mereka di Parlemen (Impeachment/Pemakzulan) maupun unjuk rasa besar-besaran seperti pada tahun 1999 silam.
Semua itu ber-Hulu pada "OPINI PUBLIC" atau Isu Sosial Masyarakat Umum, secara alam bawah sadar kita,kita digerakkan alam pikiran kita untuk percaya pada satu kondisi tertentu, hal ini dilakukan secara terus menerus tanpa sadar kita mengamini kondisi tersebut, itu adalah bentuk kesuksesan Propaganda yang dahulu mutlak bisa dilakukan Penguasa Otoriter namun pada saat ini adalah kekuasaan konglomerasi.
Media dewasa ini sering kali memutar balikkan fakta dan membangun sebuah opini, mereka seperti "Tiran" baru di era Demokrasi. Ada slogan baru bagi Media yang bunyinya "Siapa yang ingin berkuasa maka kuasailah Media".
Media di Era Demokrasi terjerembab pada satu kondisi dimana Lord Acton dalam Teori Terkenalnya berbunyi "Power Tends to Corrupt but Absolutly Power Corrupt Absolutly" kebebasan informasi dan Ekspresi menjadi tameng mereka.

Dari Dua Point diatas timbul pertanyaan, jika kita tidak bisa melakukan tindakan Preventif bersamaan, mana dahulu yang bisa dilakukan...?

Pendapat Pribadi saya adalah lakukan perbaikan pada UU Pers, Perusahaan Lembaga pers baik cetak maupun elektronik wajib dilakukan Audit kekuangan secara Independent, karena apa sumber dana yang mengalir ke Perusahaan Pers cenderung yang menyebabkan tidak kredibelnya pemberitaan mereka, selanjutnya yang terpenting adalah larangan bagi Pemilik maupun pemegang saham dikuasai oleh holding company seperti ddisini dan terakhit yang terpenting adalah guna mencegah Pers tidak ditunggangi kepentingan Politis maka adanyanya Larangan Parpol memiliki Media Pers Nasional kecuali hanya Situs resmi partai mereka sebagai ajang propaganda bukan media pers yang dinikmati masyarakat secara umum.

Menjadi Pengusaha bukanlah hal buruk, bahkan dapat menjadi ladang Amal dan Ibadah dimana ketika bisa membantu orang banyak, dan tidak semua Pengusaha Besar itu "Mafia".

Bahayanya jika tidak adanya titik Equilibrium atau keseimbangan antara tiga pilar negara adalah yang timbul hanyalah kesewenang-wenangan jika kita meminjam istilah Hukum Administrasi Negara yakni Abus the Droid atau Detournement de Puvoir maupun Wilekeur.

Jika ini bisa terjadi Quo Vadis (♏ªų dibawa kemana) nasib masyarakat Indonesia, 2014 tinggal menghitung bulan semoga rakyat Indonesia diberkahi Allah swt Tuhan Yang Maha Esa



                                                                   Arizma Bayu Suwito
                                                        Hasil dari Kegalauwan Putra Pertiwi
                                                                 Gamprit V, 9 Juni 2013

Thursday, January 31, 2013

Diambang Kehancuran



Geopolitik Internasional khususnya di Asia sedang diuji kestabilannya, konflik-konflik sporadis marak terjadi, hal ini yang menjadi titik point kekhawatiran Dunia khususnya bagi Asia, baik Asia Tengah, Asia Timur bahkan Asia Tenggara tersimpan bibit-bibit konflik yang sewaktu-waktu ibarat bom atom yang siap meledak.
Asia adalah sebuah Bangsa yang diberikan oleh Tuhan anugerah yang maha Dahsyat, disana banyak sumber-sumber energi Dunia dan Pangan berasal, namun di Asia sendiri paling sedikit menikmati kekayaan itu sendiri dibandingkan Bangsa Barat, sudah tidak bisa dipungkiri lagi, Bangsa Barat adalah bangsa yang paling banyak menghabiskan sumber daya alam dunia setiap harinya. Eksplorasi-eksplorasi baik tambang maupun mineral banyak dimiliki oleh bangsa barat.
Disaat ada beberapa bangsa barat  yang mengalami masalah ekonomi, ketakutanpun berimbas keseluruh dunia dari dampak berkelanjutannya (Multiplayer Effect) kita tahu seperti halnya Yunani, Spanyol dan beberapa Negara eropa timur lainnya meminta bantuan ekonomi kepada United Europe (UE). Tidak terjadi bagi Negara adidaya sekelas Amerika Serikat yang juga mengalami kesulitan ekonomi, karena pada pemerintahan sebelum Obama yang mencintai Perang-perangan banyak menghabiskan sumber dana negara.
Yang mesti anda pahami adalah, menyangkut perputaran uang di dunia, uang dapat berbentuk Surat, Logam Mulia, elektronik (E-pay) maupun Giral atau Kartal, namun pada dasarnya uang tersebut dapat berharga jikalau dapat ditukarkan dengan nilai nominal tertentu. Dan itu dihitung dari kas deposit emas negara ataupun kalau di Indonesia menggunakan Dollar Amerika (US Dollars $).
Krisis yang terjadi di Eropa dikarenakan dimana Devisa Negara menipis dan sumber pendapatan negara berkurang sehingga untuk melaksanakan aktivitasnya dalam hal ini mengalami gangguan. Itu lah yang menyebabkan stagnantasi geliat ekonomi.
Beberapa Negara Eropa yang mampu pun memberikan bantuannya melalui dana segar yang turun plus bunga yang diberikan. Namun bagi Negara yang mempunyai kekuasaan di dunia tak lain dan tak bukan adalah meningkatkan Provitable yang bersumber dari Penjualan Senjata, senjata adalah bisnis hitam yang legal di dunia, dan hal ini mendatangkan keuntungan yang amat besar bagi Negara produsennya.
Ketegangan-ketegangan di benua asia menyebabkan Demand akan senjata meningkat, bahkan tiap-tiap Negara yang sedang mengalami Konflik  menambah pagu anggaran penyediaan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) bagi negaranya, kita tahu China yang sedang berkonflik dengan tidak hanya Jepang juga beberapa Negara di Asean atas Kepulauan Sparatyl (Laut China Selatan) dan Senkaku (Jepang) / Diayou (China) (baca ; http : / / www. Sky city gallery. Com / japan / diaohist. html), dimana dibalik konflik tersebut ada AS disana. Begitu juga yang terjadi antara India dan Pakistan diperbatasan Khasmir (baca ; http : / / m. sindo news. Com / read / 2013 / 01 / 14 / 40 / 707161 / india – minta – Pakistan – kembalikan – kepala – tentara – korban – pemenggalan.). Dan konflik yang memang sudah terjadi adalah konflik Suriah, jelas pada kasus ini keterlibatan bangsa barat sangat terlihat, bahkan benua Afrikapun contohnya Mali sedang di intervensi oleh salah satu Negara Eropa, kita tahu yang mendapatkan keuntungan dari perlombaan senjata ini adalah produsen senjata dunia.( Negara manakah itu…?) Uang-uang yang mengalir dari bisnis ini dipergunakan untuk menambah deposit devisa Negara, sehingga Negara tersebut dapat terselamatkan dari kesulitan ekonomi.
Sebagian besar konflik yang terjadi dibelahan benua dunia tak seberbahayanya konflik yang sedang terjadi antara India dan Pakistan. Kenapa…karena kedua Negara tersebut adalah pengguna senjata pemusnah massal nuklir (nuke weapon). Jika penyelesaian konflik perbatasan yang menyebabkan tewasnya tentara kedua belak pihak tidak segera terselesaikan, yang mengerikan adalah dampak selanjutnya. Semoga kedua Negara dapat menahan diri dari kehancuran yang mengerikan itu.

Thursday, December 27, 2012

Just writing



          Konstelasi Politik di  tahun 2013, jump start atau great start di tahun depan menjadi isu Panas, dengan kasus-kasus korupsi menjadi Top Line pemberitaan media baik cetak maupun elektronik di 2 tahun terakhir, yang “jare” Ketua Fraksi Parpol Democrat terjadi ketidak-Adil-an dalam hal pengusutan kasus tindak pidana korupsi, eeeeeeittts sebelum ngelanjut boleh ketawa bentar ya (hahahahahahahahahahahaha)… (ngerewind) dagelan epic nan menghibur di abad fatamorghana saat ini, sangat lucu, ada ketua fraksi cemburu merasa partainya terlalu diperhatikan keburukannya sedangkan kasus partai lain tidak diperhatikan…katanya pemeran Makmur dalam Sitkom “awas ada Sule” pasti dia bilang dengan ekspresi lucunya “uwwooow”. (hehehe garing ya…?lupakan…lupakan :p ).
            Logika kalau partainya bersih buat apa takut sampai bilang ingin dibubarkan saja KPK, kayak anak kecil saja sampai segitunya…mungkin bisa benar juga kalau merasa “terlalu” diperhatikan Aib partainya sedangkan partai lain yang punya masalah “Penjualan Saham Telkomsel yang gak bisa buy back, Masalah dana bailout Century, dan terakhir hambalang adem ayem toto tentrem titi rahardjo…tretektek, padahal ada sederet kasus Korupsi yang hingga kini belum terselesaikan, semisal kasus korupsi orde baru menyangkut dana moneter yang jatuh ke pengusaha-pengusaha dan melarikan diri membawa uang tersebut seperti samsul nur calim, Sinikipasan dll, bahkan kasus Anggodok dan Anggor merah pun ilang, (hwuaaa ada banyak agennya Adam Smith disini jadi banyak yang gak keliatan).
            Dah ah jadi ngalor-ngidul…kembali ke 2013 dimana konstilasi politik pusat yang sedang memanas tak jarang black campaigne jamak terjadi, mulai dari di adu domba dan pembunuhan karakter bla bla bla, tapi eh cuy mau tahu gak, tahun depan pasti banyak calon Presiden dan Wakilnya mencari wadah untuk mengekspresikan diri mereka, mempresentasikan Visi Misi mereka, dan pada masa kekinian cenderung kampus menjadi ajang untuk menunjukkan intelegensia seorang calon pemimpin,
            Semestinya situasi ini yang bisa diambil celahnya bagi mereka yang melihat kesempatan ini, mereka dengar yang namanya kata “Pemuda” sudah tidak takut lagi di demo, malah mereka akan bangga di bilang Pemuda atau setidaknya dekat dengan pemuda, karena Pemuda cenderung adalah pembaharu, berfikiran segar cerdas dan penuh dengan Idealism, ibaratnya Pemuda adalah orang-orang yang bisa diandalkan bagi kemajuan bangsa…sekarang banyak Politisi mencitrakan bahwasanya diri adalah seorang Pemuda yang penuh semangat idealism, hal ini dikarenakan kata “orang tuaa’ dalam ranah politik mengalami perubahan makna (Denotatif) jauh dari sopan santun, kebajikan dan penuh dengan kharakter keteladanan, sekarang seorang tua dalam konstelasi politik kekinian bermakna lambat, terlalu banyak perhitungan, dan cenderung stagnan.
            Yang menjadi aneh ya, sejak dahulu belum ada capres dan cawapres mendeklarasikan keikutsertaannya dalam pemilu di Purwokerto, padahal dalam sejarah Revolusi perjuangan kemerdekaan bangsa, kota ini yang menyelamatkan muka bangsa dari penghinaan Negara Belanda sewaktu Agresi Militer I dan II, dari kota ini dunia mengenal Indonesia adalah sebuah Negara bukan bagian dari wilayah Protektorat Belanda, meskipun tidak mengecilkan peran kota-kota lain di Tanah Air. Dengan alasan ini semestinya tahun depan bisa diadakan dialog nasional yang diselenggarakan di kota Purwokerto. Berandai saja suatu saat kembali ke masa jayanya…heeem…

Tuesday, October 25, 2011

KPK di Bubarin....???????????


ANTARA STATEMENT FACHRI HAMZAH DENGAN KESEPADANAN KORUPSI DI INDONESIA

Hal yang menggelitik ketika ada statement salah satu Politisi senayan menginginkan kalau KPK itu mesti dibubarkan dengan berbagai argumentasi yang diberikan, kita ambil positif saja ketika beliau melontarkan statement menganggap KPK itu adalah lembaga “Super Body” yang mengawasi Tindak Pidana Korupsi di Indonesia, yang mempunyai wilayah sangat luas dengan penduduk lebih dari 200 juta jiwa dengan jumlah penyidik yang tak sebanding.
Ada dua kemungkinan menjadi asumsi saya:
1.      Politisi tersebut takut jikalau nanti KPK tetap dibiarkan akan membongkar Korupsi yang melibatkan orang-orang disekitarnya(Koruptor Fight Back,red).
2.      Seorang Negarawan rela mengorbankan dirinya meskipun dengan resiko nama dirinya taruhannya demi kemajuan Bangsa dan Negara.

Kenapa saya mengambil dua asumsi ini, pada Point pertama kenapa beliau beragumen untuk membubarkan KPK bukan untuk memperbaiki atau berusaha menyelamatkan Lembaga ini, karena KPK yang hampir selama pembentukannya telah terlihat kinerjanya sangat bagus.
Pada point kedua ya menurut pendapat Lord Acton “Power Tends to Corrupt, but absolute power corrupt absolutely”, beliau takut ketika suatu lembaga diberi kekuatan yang sangat besar seperti KPK dengan beban berat yang ada, juga mengkhawatirkan adanya penyelewengan, belum lagi disini seakan Lembaga Hukum yang lain seperti Polisi dan Kejaksaan tidak berjalan sama “perkasanya” seperti KPK.
Nb: Yang jadi pertanyaan kenapa beliau menggunakan kata “Bubarkan” KPK…?